Tema: Ukhuwah Islamiyah, Tauhidul Ibadah, dan Tauhidul Ummah
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد،
فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah سبحانه وتعالى yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, serta kesempatan untuk kembali bertemu dengan hari raya Idul Adha yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Hari raya Idul Adha bukan sekadar hari penyembelihan hewan kurban atau perayaan tahunan umat Islam. Idul Adha adalah madrasah keimanan, madrasah tauhid, madrasah pengorbanan, dan madrasah persatuan umat.
Di hari-hari mulia ini, jutaan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Mereka datang dari berbagai bangsa, bahasa, budaya, warna kulit, dan latar belakang kehidupan. Ada yang kaya dan ada yang miskin, ada pejabat dan rakyat biasa, ada ulama dan masyarakat awam. Namun ketika mengenakan pakaian ihram, semua perbedaan duniawi itu seakan hilang.
Inilah pelajaran besar tentang tauhidul ibadah, bahwa seluruh ibadah hanya dipersembahkan kepada Allah سبحانه وتعالى.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An’am: 162)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan seorang muslim harus dipersembahkan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى. Seorang muslim hidup untuk Allah, beribadah untuk Allah, bekerja karena Allah, berjuang karena Allah, bahkan mati pun dalam ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ibadah haji menjadi simbol nyata tauhid tersebut. Jutaan kaum muslimin melaksanakan ibadah yang sama, memakai pakaian ihram yang sama, melantunkan zikir dan talbiyah yang sama, mengikuti tuntunan Nabi Muhammad ﷺ yang sama, dan menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah سبحانه وتعالى.
Mereka bersama-sama mengucapkan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
Artinya:
“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Kalimat talbiyah ini bukan sekadar ucapan lisan, tetapi deklarasi tauhid dan ketundukan total kepada Allah سبحانه وتعالى. Tidak ada kesombongan, tidak ada kebanggaan dunia, tidak ada pengagungan terhadap selain Allah. Semua hati tunduk dan mengakui bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى yang berhak disembah.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Selain mengajarkan tauhidul ibadah, ibadah haji juga mengajarkan tauhidul ummah, yaitu persatuan umat Islam. Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia berasal dari asal yang sama.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu…”
(QS. An-Nisa’: 1)
Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit bukan alasan untuk saling menghina dan bermusuhan. Semua manusia berasal dari Nabi Adam عليه السلام. Yang membedakan manusia di sisi Allah hanyalah ketakwaannya.
Karena itu Islam sangat menekankan pentingnya persatuan dan melarang perpecahan.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Hari ini umat Islam menghadapi banyak tantangan. Perpecahan sering terjadi karena perbedaan pendapat, fanatisme kelompok, kepentingan dunia, bahkan karena persoalan kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan ukhuwah dan kasih sayang.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk menjadi umat yang saling mencintai dan saling peduli.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
“مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى”
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh hidup sendiri tanpa peduli kepada keadaan saudaranya. Ketika ada saudara kita yang kesusahan, miskin, tertimpa musibah, atau mengalami penderitaan, maka kita harus ikut merasakan dan membantu semampu kita.
Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerintahkan:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Idul Adha mengajarkan kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama kasih sayang dan kebersamaan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pada hari raya yang mulia ini, kita juga mengambil pelajaran besar dari keluarga Nabi Ibrahim عليه السلام, keluarga yang dibangun di atas tauhid, ketaatan, pengorbanan, kesabaran, dan cinta kepada Allah سبحانه وتعالى.
Nabi Ibrahim عليه السلام adalah teladan seorang ayah dan hamba Allah yang sangat taat. Ketika Allah memerintahkannya meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail عليه السلام di lembah yang tandus tanpa tanaman dan tanpa air, beliau tetap melaksanakan perintah Allah dengan penuh keyakinan dan tawakal.
Siti Hajar رضي الله عنها juga menunjukkan keteladanan seorang ibu yang penuh keimanan. Ketika ditinggalkan di padang pasir yang gersang, beliau tidak berputus asa. Beliau berlari antara bukit Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya. Dari perjuangan dan tawakal itulah Allah menghadirkan air zamzam yang penuh keberkahan hingga hari ini.
Keteladanan terbesar tampak ketika Nabi Ibrahim عليه السلام diperintahkan menyembelih putranya yang sangat dicintainya, Nabi Ismail عليه السلام.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Lihatlah bagaimana kuatnya iman keluarga Nabi Ibrahim عليه السلام. Nabi Ibrahim taat kepada Allah, Nabi Ismail taat kepada ayahnya dan taat kepada Allah, Siti Hajar pun ridha terhadap ketetapan Allah سبحانه وتعالى.
Mereka mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Di atas harta, jabatan, kedudukan, bahkan di atas cinta kepada keluarga dan diri sendiri.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum memperbaiki tauhid kita, mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat persatuan umat, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Jangan biarkan perbedaan pendapat, organisasi, suku, ataupun urusan dunia memecah belah umat Islam. Kita adalah satu umat. Kita memiliki satu kiblat, satu Al-Qur’an, satu Nabi Muhammad ﷺ, dan satu Tuhan yang kita sembah, yaitu Allah سبحانه وتعالى.
Semoga Allah سبحانه وتعالى menerima amal ibadah kita, menerima kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempersatukan hati kaum muslimin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


0 komentar:
Posting Komentar