Dalam hidup, ada banyak hal yang baru kita sadari nilainya ketika ia mulai hilang. Kita baru merasakan mahalnya kesehatan saat sakit datang. Kita baru memahami berharganya waktu ketika kesempatan telah berlalu. Kita baru menyadari pentingnya masa muda ketika usia tak lagi muda.
Begitulah manusia sering belajar dari penyesalan.
Karena itu Nabi Muhammad SAW memberi nasihat yang sangat dalam:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim)
Hadis ini singkat, tetapi jika direnungkan, ia seperti peta kehidupan. Ia mengajarkan bahwa hidup yang bijak adalah hidup yang memanfaatkan kesempatan sebelum berubah menjadi penyesalan.
1. Masa Muda Sebelum Masa Tua
Masa muda adalah masa emas. Masa menanam, bukan masa bermalas-malasan.
Di usia muda, tenaga masih kuat, semangat besar, daya pikir tajam, dan peluang terbuka luas. Inilah fase terbaik untuk belajar, membangun keterampilan, menuntut ilmu, memperkuat iman, dan menyiapkan kontribusi untuk umat.
Sayangnya banyak orang menyia-nyiakan masa muda dalam kelalaian. Ketika tua datang, barulah penyesalan muncul.
"Andai dulu aku lebih serius belajar..."
"Andai masa mudaku tidak habis untuk hal sia-sia..."
Penyesalan itu sering datang terlambat.
Gunakan masa muda untuk menanam amal dan ilmu, sebab apa yang ditanam hari ini akan dipanen di masa depan.
2. Sehat Sebelum Sakit
Kesehatan adalah nikmat yang paling sering terlupakan.
Selama sehat, kita bisa bergerak, beribadah, bekerja, belajar, mengajar, menghadiri majelis ilmu, dan melayani orang lain. Tapi ketika sakit datang, hal-hal yang sederhana menjadi berat.
Betapa banyak orang baru menghargai nikmat sehat ketika harus berbaring di rumah sakit.
Gunakan kesehatan untuk ketaatan.
Selagi kuat, hadirkan langkah ke masjid. Selagi bugar, gunakan tenaga untuk amal. Selagi sehat, dekatlah dengan Quran.
Karena belum tentu kekuatan itu selalu ada.
3. Kaya Sebelum Fakir
Harta bukan hanya untuk dinikmati, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Ia bisa menjadi jalan menuju keberkahan bila dipakai untuk kebaikan:
- membantu sesama
- mendukung dakwah
- memakmurkan masjid
- menopang pendidikan Islam
- membangun amal jariyah
Sering manusia menunda memberi:
“Nanti kalau lebih mapan…”
Padahal belum tentu kesempatan itu datang.
Yang sering disesali bukan sedikitnya harta, tetapi ketika harta melimpah namun tidak pernah menjadi bekal akhirat.
Gunakan kelapangan sebelum kesempitan.
4. Waktu Luang Sebelum Sibuk
Waktu adalah modal hidup yang tidak bisa diulang.
Uang yang hilang bisa dicari.
Barang yang rusak bisa diganti.
Tapi waktu yang berlalu tidak kembali.
Ironisnya, justru yang paling sering disia-siakan adalah waktu.
Berjam-jam habis untuk hal remeh, sementara ilmu ditunda, ibadah dilalaikan, dan cita-cita dibiarkan menggantung.
Lalu datang masa sibuk:
tanggung jawab bertambah, urusan menumpuk, tenaga berkurang.
Barulah terasa betapa mahalnya waktu luang dahulu.
Gunakan waktu kosong untuk hal yang bernilai. Membaca. Belajar. Menghafal. Menulis. Berdakwah. Mendidik keluarga.
Karena waktu adalah bahan baku peradaban.
5. Hidup Sebelum Mati
Inilah nasihat yang paling besar.
Selama hidup, pintu taubat terbuka.
Selama hidup, amal bisa ditambah.
Selama hidup, kesalahan masih bisa diperbaiki.
Tetapi saat kematian datang, seluruh peluang itu selesai.
Quran menggambarkan manusia yang menyesal meminta kembali ke dunia untuk beramal saleh. Namun saat itu penyesalan tak lagi mengubah apa pun.
Maka hidup hari ini adalah kesempatan.
Kesempatan memperbaiki diri.
Kesempatan menanam amal.
Kesempatan membangun warisan kebaikan.
Jangan menunggu esok untuk taat.
Lima Nikmat, Lima Peringatan
Hadis “lima sebelum lima” sejatinya mengingatkan satu prinsip besar:
Setiap nikmat punya masa. Jika tidak dimanfaatkan, ia berubah menjadi penyesalan.
Muda akan berganti tua.
Sehat bisa berganti sakit.
Lapang bisa berubah sempit.
Luang berubah sibuk.
Hidup berakhir mati.
Karena itu, orang bijak tidak menunggu kehilangan untuk menghargai nikmat.
Ia memanfaatkannya sejak sekarang.
Sebelum Terlambat
Mari bertanya pada diri sendiri:
Apa yang sudah saya lakukan dengan masa muda?
Apa yang saya lakukan dengan kesehatan saya?
Ke mana harta saya mengalir?
Untuk apa waktu saya habis?
Sudahkah hidup ini menjadi bekal sebelum mati?
Jangan tunggu penyesalan datang.
Manfaatkan lima sebelum lima.
Karena penyesalan terbesar bukan karena kita pernah gagal,
tetapi karena kesempatan berbuat baik pernah ada… lalu kita biarkan berlalu.
Semoga bermanfaat


0 komentar:
Posting Komentar